happy wheels

Siaran Pers: Kekerasan dalam Operasi Militer

0

Selasa, 26 November 2013 hari kedua acara “Dengar Kesaksian : Bicara Kebenaran, Memutus Lingkar Kekerasan” di Gedung Teater Perpustakaan Nasional sudah dipenuhi oleh ratusan orang untuk menyaksikan kesaksian-kesaksian korban pelanggaran HAM, mulai dari Aceh, Papua sampai Timor Leste.

Isu tematik yang diangkat hari ini adalah Isu Kekerasan Dalam Operasi Militer. Sedikitnya 6 orang korban kekerasan hadir dalam Dengar Kesaksian untuk menceritakan pengalamannya. Korban didatangkan dari daerah yang berasal dari Aceh, Papua dan Timor Leste. Kekerasan yang dialami oleh korban terjadi pada rentang tahun 1972-2000.

Rangkaian kegiatan ini di fasilitasi oleh Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK) yang dimaksudkan untuk menjadi ruang bagi suara-suara korban untuk mengungkapan kebenaran tentang kekerasan sistematis yang penah dialami oleh korban. Dengar kesaksian korban juga melibatkan kehadiran dari Majelis Warga dan Saksi Ahli. Peran Majelis Warga dalam Dengar Kesaksian ini adalah untuk mendengarkan kesaksian para korban sekaligus memberikan sebuah refleksi terhadap persoalan yang tengah kita hadapi, dan rekomendasi untuk terobosan menuju kehidupan berbangsa yang bebas dari kekerasan.

Sedangkan peran Saksi Ahli lebih kepada untuk memberi masukan tentang pola, penyebab, dan pertanggungjawaban yang harus didorong untuk memutus lingkar kekerasan yang membelenggu kita. Sehingga mampu diuraikan benang merah tentang berbagai pola kekerasan yang terjadi dari masa ke masa.

Sedikitnya terdapat enam kasus kekerasan yang terjadi dalam Kekerasan Korban Dalam Operasi Militer. Enam kasus yang diangkat pada hari ini antara lain Kasus Simpang KKA dan Kasus Penahanan dan Penyiksaan Pada Masa DOM, di Aceh; Kasus Marabia dan Kasus Anak Yang Dipaksa Pindah, di Timor Leste; Kasus Penyiksaan dan Kekerasan Seksual dan Kasus PEnahanan dan Kerja Paksa, Masa Pepera, Papua.

Berikut adalah salah satu kesaksian korban Kasus Kekerasan Dalam Kebijakan Operasi Keamanan dan Militer

“Tahun 1975 saya bersama keluarga melarikan diri ke hutan, kurang lebih tiga tahun saya bertahan. Pada tahun 1978 sekitar 300 orang ditangkap oleh TNI, kami selalu ditindas, dipukuli dan diancam akan dibunuh sampai tujuh keturunan. Saya berharap masalah ini jangan terulang lagi kita yang jadi korban harus menunjukkan diri didepan umum. Kami meminta kepada Negara RI dan Timur Leste sesuai kesepakatan untuk menjalankan kesepakatan ini. Saya disini atas nama korban seluruh keluarga di Timur Leste yang mengalami penderitaan operasi Militer Indonesia selama 24 tahun di Timur Leste.”

 Menanggapi kesaksian tersebut, Patrick Walsh, penasehat CAVR Timor Leste, selaku Saksi Ahli dalam kegiatan Dengar Kesaksian hari ini, mengatakan “beberapa pelajaran untuk masa depan sudah jelas, rakyat jelata menderita dan mengerikan. Peraturan demokratis jauh lebih baik dari pada hukum senjata. Semoga komisi kebenaran berkontribusi besar dalam kejadian ini.”

Melalui Dengar Kesaksian pada hari ini, Majelis Warga menyatakan perempuan dan anak menjadi target kekerasan menggantikan suami yang saat itu tidak ditemukan militer. Dampaknya adalah stigma dari masyarakat sekitar. Untuk kasus anak-anak yang diambil paksa, kedua Negara baik Indonesia maupun Timor Leste harus memfasilitasi dan mencari jalan untuk memulihkan anak-anak ini.

Dalam alasan keamanan Negara seakan kekerasan militer menjadi dalih. Ada beberapa pola kekerasan yang terulang yaitu adanya modus militer dalam menangkap, menyiksa, tanpa mekanisme pembelaan. Ini mengakibatkan trauma yang berkepanjangan. Adanya kekuasaan tanpa batas oleh militer yang memaksa untuk tunduk tanpa perlindungan apapun, menggunakan kelaparan sebagai senjata perang. Ada kasus yang polanya berulang dari tahun 1878, 1980 sampai 2000an.

Apabila kita melihat ada tindakan kekerasan dalam militer pasti ada pelanggaran hukum dan hak asasi manusia. Sampai saat ini berbagai kasus HAM dan kekerasan dalam operasi militer masih belum selesai, keadilan korban belum tuntas. Namun kami menemukan mutiara yang kami temukan sangat relevan dengan tahun kebenaran. Mutiara yang kami temukan adalah jiwa besar. Ia tidak dendam dan berharap kita tidak menjadi pendendam.

Kegiatan Dengar Kesaksian masih akan berlangsung sampai dengan hari Jumat 29 November 2013, dimana setiap harinya akan mengangkat isu yang berbeda.

Besok, Rabu, 27 November 2013, Dengar Kesaksian akan mengangkat isu tematik Ideologi Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan. Dukung Kegiatan Dengar Kesaksian dengan follow twitte KKPK @koalisi_kkpk @bicarabenar

 

Jakarta, 26 November 2013

Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK)

Contact Person : Dodi Yuniar – 0818 267 531 / Putri Kanesia – 0815 162 3293

Comments

Leave a Reply

Required Fields *
Your email will not be published.