happy wheels

Siaran Pers: Kekerasan atas Ideologi dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

0

Gedung Teater Perpustakaan Nasional kian hari kian diramaikan orang untuk menyaksikan kesaksian-kesaksian korban pelanggaran HAM, mulai dari Jakarta sampai Nusa Tenggara Barat (NTB). Sedikitnya enam kesaksian dihari ketiga Rabu, 27 November 2013 ini dalam acara “Dengar Kesaksian : Bicara Kebenaran, Memutus Lingkar Kekerasan.”

Isu tematik yang diangkat hari ini adalah Isu Ideologi dan Kebebasan Beragama/Keyakinan. Korban yang dihadirkan dalam berbagai daerah seperti, Jakarta, Lampung, Mataram dan Lombok akan menceritakan pengalamannya. Kekerasan yang dialami oleh korban terjadi pada rentang 1965-2005.

Rangkaian kegiatan yang di fasilitasi oleh Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK) yang dimaksudkan untuk menjadi ruang bagi suara-suara korban untuk mengungkapan kebenaran tentang kekerasan sistematis yang pernah dialami oleh korban. Dengar kesaksian korban juga melibatkan kehadiran dari Majelis Warga dan Saksi Ahli. Peran Majelis Warga dalam Dengar Kesaksian ini adalah untuk mendengarkan kesaksian para korban sekaligus memberikan sebuah refleksi terhadap persoalan yang tengah kita hadapi dan rekomendasi untuk terobosan menuju kehidupan berbangsa yang bebas dari kekerasan.

Sedangkan para Saksi Ahli lebih kepada untuk memberi masukan tentang pola, penyebab dan pertanggungjawaban yang harus didorong untuk memutus lingkar kekerasan yang membelenggu kita. Sehingga mampu diuraikan benang merah tentang berbagai pola kekerasan yang terjadi dari masa ke masa.

Enam kasus yang akan diulas dalam forum adalah kasus peristiwa 1965-1966, kasus peristiwa Tanjung Priok 1984, Peristiwa Talangsari-Lampung, Diskriminasi terhadap penganut Agama Djawa Sunda, Serangan terhadap Jemaat Ahmadiyah Lombok.

Berikut adalah salah satu kesaksian korban Bapak M Kasus Ideologi dan Kebebasan Beragama/Keyakinan
“Saya dituduh terlibat 30 S. Saya ditangkap dan ditahan di Jakarta mulai dari Cipinang, Tangerang, dan Salemba. Pada tahun 1969 saya dipindahkan ke Pulau Buruh yang menahan kurang lebih 10-12 ribu orang tapol. Setiap harinya saya dan para tahanan disuruh kerja paksa untuk mengerjakan 3,5 hektar dan jalan sepanjang 175 km dan membuat bendungan, jaringan irigasi dan gereja. Selama 14 tahun kami ditahan dan kami berusaha mencari keadilan dan mencari jawaban sampai saat ini dan tidak ada jawaban apa-apa. Banyak peraturan yang diskriminatif bagi Tapol, peraturan ini sebagai paying hukum oleh Orba, seolah-olah orba itu sebagai pembasmi PKI. Harapan saya hanya meminta keadilan bagi para Tapol.”

Peristiwa 1965-1966 yang terjadi diberbagai wilayah Indonesia merupakan suatu peristiwa tragedi kemanusiaan yang menjadi lembaran sejarah hitam bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi sebagai akibat dari adanya kebijakan Negara pada waktu itu yang ingin melakukan penumpasan terhadap para anggota dan pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dianggap telah melakukan perlawanan terhadap Negara. Peristiwa ini akhirnya menyebabkan jatuhnya ratusan ribu hingga jutaan korban jiwa yang mengakibatkan terjadinya berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia, antara lain pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa, perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lai secara sewenang-wenang, penyiksaan, perkosaan, penganiyaan dan penghilangan orang secara paksa.

Kegiatan Dengar Kesaksian masih akan berlangsung sampai dengan hari Jumat 29 November 2013, dimana setiap harinya akan mengangkat isu yang berbeda.

Besok Kamis, 28 November 2013, Dengar Kesaksian akan mengangkat isu tematik tentang Sumber Daya Alam. Dukung kegiatan Dengar Kesaksian dengan follow twitter KKPK @koalisi_kkpk @bicarabenar

Jakarta, 27 November 2013
Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK)
Contact Person : Dodi Yuniar – 0818 267 531 / Putri Kanesia – 0815 162 3293

Comments

Leave a Reply

Required Fields *
Your email will not be published.