happy wheels

Refleksi Majelis Warga: Belum ada satupun kasus pembela HAM yang terungkap

0

Mendengar kesaksian dari pribadi, keluarga, saudara, dan kolega 7 orang pembela HAM sejak pagi hingga sore hari yang sangat menyentuh nurani kita bersama, sebagai Majelis Warga kami berterima kasih atas kesediaan bapak dan ibu untuk membagi pengalaman. Kami Majelis Warga merasa bangga terhadap keberanian yang telah ditunjukkan oleh bapak-ibu untuk mengungkapkan kebenaran dari kekerasan yang telah menimpa diri para pembela HAM yang hingga saat ini belum dapat diungkapkan dalang durjana pembunuhnya ataupun belum ditemukan mayat atau kuburannya. Kami setuju bahwa sekaranglah saatnya untuk kita semua, sebagai warga, menuntut keadilan.

Pejuang HAM di Indonesia, terutama pada masa pemerintahan Orde Baru, posisinya sangat lemah dan rentan. Rezim yang berkuasa begitu mudah mengambil nyawa para pejuang HAM. Masyarakat, keluarga dan kolega selalu dalam posisi yang tidak berdaya, dan sangat tergantung kepada proses penegakkan hukum yang sama sekali tidak berpihak kepada keadilan korban. Hukum hanya berpihak kepada penguasa, bukan kepada korban dan masyarakat.

Pola kekerasan yang dialami para pejuang HAM, selalu ditandai dengan keterlibatan militer, yang terlihat sangat bengis dan tidak menghargai nyawa manusia. Diawali dengan intimidasi, teror, pengambilan paksa, penculikan, dan berpuncak kepada pembunuhan. Ketika terjadi proses penegakkan hukum, maka secara kasat mata polisi tunduk kepada militer, pengadilan lumpuh tidak punya hati nurani. Maka sebahagian besar pelaku utama dipastikan bebas dari hukuman. Hingga detik ini belum ada satupun kasus pembela HAM yang terungkap tuntas, dan pelaku utamanya mendapat hukuman yang setimpal.

Selain itu hal yang patut menjadi perhatian kita semua adalah dampak dari semua peristiwa ini kepada keluarga para pembela HAM dalam bentuk stigmasisasi, teror, intimidasi dari pihak yang berkuasa. Hal lain yang tidak kurang pedihnya adalah pengabaian atas hak-hak keluarga untuk mendapatkan kebenaran mengenai status suami, kakak, adik, orang tua, dan anak dari para pembela HAM. Begitu pun dengan hak atas kompensasi, rehabilitasi dan hak-hak lainnya.

Patut disyukuri bersama bahwa keluarga dan kolega dari pejuang HAM yang menjadi korban tetap bertahan dan terus berupaya mencari keadilan dan kebenaran. Mereka yang semula menjadi korban tidak langsung, sekarang ini telah menjelma menjadi pembela HAM itu sendiri. Meskipun fakta menunjukkan bahwa partisipasi warga sangat kecil, perhatian pemerintah yang berkuasa saat ini juga hampir tidak ada, sehingga seolah-olah mereka hanya berjuang sendirian.

Forum Dengar kesaksian bagi para pembela atau pejuang HAM pada hari ini diharapkan bisa memberikan pembelajaran dan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya kebersamaan dalam mendukung korban agar peristiwa kejahatan terhadap kemanusiaan tidak terulang kembali apapun motifnya. Forum dengar kesaksian ini adalah ruang bagi korban bersama yang diinisiasi dan difasilitasi oleh KKPK untuk terus mengajak masayarakat secara bersama-sama mendorong pertanggungjawaban negara terhadap pelaku, sekaligus memenuhi tanggungjawab negara dalam hak atas kebenaran, keadilan, pemulihan kepada korban, serta jaminan agar kebijakan negara yang tidak manusiawi dan  praktek-praktek kehidupan bernegara yang mengedepankan kekerasan tidak terulang lagi.

Selain itu forum Dengar Kesaksian yang menjadi bagian dari kegiatan Tahun Kebenaran Desember 2012- Desember 2013 adalah bagian dari upaya pendidikan bagi publik bahwa ada sejarah bangsa yang kelam yang perlu diluruskan dan diterangi dengan cahaya-cahaya kebenaran. Upaya ini menurut kami, Majelis Warga, patut disikapi dan ditanggapi oleh pengambil kebijakan di bidang pendidikan, baik formal maupun nonformal, bahkan diharapkan sampai kepada kurikulum pendidikan.

Pada akhirnya kami ucapkan terima kasih yang mendalam kepada para bapak/ibu dan korban yang telah bersedia memberi kesaksian.

Jakarta, 29 November 2013
Tertanda Majelis Warga

Irawati Harsono
John Djongga
Miryam Nainggolan
Ichsan Malik
Elga Sarapung

Comments

Leave a Reply

Required Fields *
Your email will not be published.