happy wheels

Refleksi Majelis Warga: Bangsa kita diwarnai oleh kekerasan

0

Kami , Majelis Warga pada tanggal 27 November 2013 telah menghadiri acara Dengar Kesaksian ‘Kekerasan terhadap Ideologi dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan’ bertempat di Ruang Theater Perpustakaan Nasional dan mendengarkan paparan atas sejumlah kasus kekerasan yang terjadi sebelum kemerdekaan (kasus diskriminasi terhadap Agama Djawa Sunda) , tahun 1965 (kasus peristiwa 1965) , tahun 1984 (kasus peristiwa Tanjung Priok), tahun 1989 (kasus peristiwa Talangsari) dan tahun 2002 ( kasus Ahmadiyah di NTB ). Masing-masing kasus kekerasan telah dipaparkan oleh Ibu Dewi Kanthi, Ibu Mujiyati dan Bapak Mujayen, Bapak Husain Sape, Bapak Azwar dan Bapak Nasrudin yang dari mana Majelis Warga mengeluarkan pernyataan ini.

Forum ini merupakan suatu forum terbuka dimana terpapar sebuah kenyataan kehidupan berbangsa kita yang realitasnya diwarnai oleh kekerasan . Kekerasan tersebut bersifat impersonal, karena siapa saja bisa menjadi korban . Tetapi kekerasan ini juga bersifat amat personal karena meninggalkan bekas-bekas penderitaan yang mendalam . Kita boleh jadi telah abai tentang masa lalu yang membentuk sejarah sosial kita bersama . Padahal ingatan tentang masa lalu itu penting karena ingatan merupakan sumber renungan akan masa kini dan masa depan : suatu dunia yang pernah ada dan bagaimana kita mau menyikapinya . Ingatan juga penting karena ia merupakan sumber bagi perumusan identitas kita , baik secara personal , sosial maupun nasional .

Dari semua kesaksian hari ini, terasa bahwa berbagai peristiwa kelam ini merupakan luka-luka kita semua sebagai satu bangsa yang senasib sepenanggungan . Solidaritas sesama anak bangsa dituntut untuk bersama-sama mengungkap kebenaran, walau itu pahit, di hadapan publik . Olehnya menjadi tugas semua anak bangsa untuk menuntut negara mengungkap semua fakta dan kebenaran, karena dari semua kasus terkihat aparat negaralah yang ternyata menjadi akar dan sumber semua masalah ini . Seyogyanya negara juga harus bertanggung jawab untuk mengungkap dan menyelesaikannya melalui rekonsiliasi nasional .

Lembaga Negara / Pemerintah tidak berhak untuk menentukan bahwa ‘ini’ agama dan ‘itu’ bukan agama ; ‘itu yang diakui’ dan ‘itu tidak diakui’. Tokoh atau pimpinan agama / lembaga keagamaan-pun tidak berhak untuk menentukan hal yang sama . Lembaga Negara / Pemerintah-pun tidak bisa berperan untuk melakukan proses pertobatan atas nama ‘dialog’ kepada kelompok-kelompok agama dan keyakinan dan menuduh mereka sesat . Lembaga Negara / Pemerintah dan lembaga keagamaan peerlu melakukan pengakuan terhadap kesalahan yang sudah dilakukan terhadap kelompok-kelompok penyintas dan memaafkan mereka secara sosial , politik dan budaya . Bukti bahwa tidak ada kekuasaan dan kekuatan apapun yang dapat mematikan KEBENARAN. Tidak ada kekuatan dan kekuasaan apapun yang dapat menghentikan semangat, kerja dan harapan kita,  pejuang Keadilan dan Kebenaran .

Keberagaman dan ideologi bangsa Bhineka Tunggal Ika seyogyanya menjadi landasan argumen bagi negeri ini untuk menghapuskan segala bentuk intoleransi, kekuasaan represif negara terhadap masyarakat / kekuasaan nilai-nilai dominan yang membungkam hak kelompok lain melakukan kegiatannya dalam kehidupan berbangsa bernegara .

Keadilan pada dasarnya merupakan bagian dari moralitas tetapi pada sisi lain dirumuskan dalam aturan-aturan yang baku untuk dilaksanakan . Keadilan merupakan suatu situasi sosial di mana norma-norma tentang hak dan kelayakan dipenuhi . Nilai dasarnya adalah martabat manusia sehingga prinsip dasarnya adalah pengakuan dan penghargaan atas martabat dan hak-hak yang melekat padanya .

Sebagai manusia, kita memiliki akal budi yang berasal dari Sumber / Pemberi Kehidupan itu sendiri yang merupakan percikan inteligensi ke-Illahi-an dan merupakan fondasi kebudayaan yang luar biasa bagi pembentukan dan pengembangan masyarakat manusia yan beradab .

Sekali lagi terima kasih kami sampaikan kepada Ibu Dewi Kanthi, Ibu Mujiyati dan Bapak Mujayen, Bapak Husain Sape, Bapak Azwar dan Bapak Nasrudin yang telah memberikan kesaksiannya pada hari ini .

 

Jakarta, 27 November 2013

Kami Majelis Warga yang mendengarkan,
Nani Nurrachman
Gomar Gultom
Elga Sarapung
Imam Aziz
Dolorosa Sinaga

Comments

Leave a Reply

Required Fields *
Your email will not be published.