happy wheels

Refleksi Majelis Warga: Adanya modus operasi militer yang sama

0

Kami telah mendengarkan berbagai kesaksian yang telah dituturkan oleh para penyintas kami dapat turut merasakan kepedihan yang  ang dirasakan para penyintas akibat tindak kekerasan yang dialami di masa lalu. Kami mengucapkan  terima kasih atas kesediaan para penyintas untuk hadir dan menuturkan pengalamannnya

Sesi pada hari ini bertemakan dengar kesaksian Kekerasan dalam Operasi Militer. Dengan alasan keamanan dan kedaulatan negara, operasi militer seakan memiliki dalih pembenaran untuk melakukan tindakan sewenang-wenang.  Dalih sesungguhnya operasi militer dimana pun dilakukan tidak pernah lepas dari ketentuan hukum dan penghargaan terhadap hak asasi manusia, sebaliknya apabila dalam konteks operasi militer terjadi tindakan kekerasan maka sangat patut diduga telah terjadi pelanggaran Hukum dan HAM. Sampai saat ini berbagai kasus kekerasan selama berlangsungnya operasi militer masih juga belum tuntas terselesaikan. Keadilan bagi para korban nyaris tidak pernah dipertimbangkan impunitas yang malah mengemuka, para pelaku tetap bisa melenggang dengan leluasa bahkan bebas berkeliaran bahkan berlomba menjadi penguasa. Namun di antara tuturan kepedihan, kami juga menemukan mutiara yang lebih berarti dari kepedihan yang dirasakan mutiara yang kami temukan sangat relevan dengan pencanangan tahun kebenaran oleh KKPK

Sebagian besar kalau tidak semua para penyintas tersirat atau tersurat telah berdamai dengan masa lalunya dalam diri sendiri. Mutiara yang kami temukan diantara tuturan kepedihan adalah jiwa besar seperti yang dituturkan oleh seorang penyintas yang menyatakan bahwa ia tidak dendam dan berharap agar kita tidak menjadi generasi pendendam. Kita catat juga perlunya memaafkan tetapi tidak untuk melupakan, serta tidak ingin melihat terulangnya kembali peristiwa yang sama pada generasi anak serta cucu kita.

Tantangan besar yang kita hadapi bersama dan juga menyatakan harapan para penyintas adalah untuk menjawab pertanyaan bagaimana dan apa yang harus kita lakukan berdasarkan kebenaran yang kita temukan agar pengalaman pahit yang dirasakan para penyintas tidak terulang pada generasi anak dan cucu kita

Tantangan itu membutuhkan tinjauan lebih dalam dan lebih luas dari sekedar kejadian tindak kekerasan itu sendiri dan tidak bisa selesai dalam sebuah potret karena banyak pihak dan institusi yang tidak dihadirkan dalam dengar kesaksian KKPK tapi turut bertanggung jawab atas terjadinya tindak kekerasan

Tantangan ini yang perlu dijawab dan dicakup dalam mekanisme kerja KKPK dalam mewujudkan cita-cita besar pencanangan 2013 sebagai tahun kebenaran. Peran dan keberanian para penyintas untuk hadir memberikan kesaksian merupakan sumbangan besar untuk bicara kekerasan memutus lingkar kekerasan dalam sebuah kerangka yang lebih komprehensif dan diletakan dalam satu bingkai dengan elemen reparasi terhadap kerugian yang diderita akibat kekerasan yang terjadi. Pencapaian keadilan serta reformasi kelembagaan sebagai jaminan peristiwa serupa tidak terulang di masa depan

Sekali lagi terima kasih atas partisipasi hadirin semua semoga TYME memberkati niat baik kita semua.

Secara khususnya kami Majelis Warga mencatat beberapa pola:

1)    Adanya modus operasi militer untuk memperoleh informasi dari berbagai daerah konflik/ DOM adalah sama: menangkap, melakukan penyiksaan, ditahan tanpa pengadilan ataupun mekanisme pembelaan dan bahkan, untuk  korban perempuan, mengalami kekerasan seksual. Ini mengakibatkan trauma berkepenjangan. Banyak sekali korban yang mengalamai hal yang sama berulang-ulang.

2)    Adanya kekuasaan tanpa batas, yang dipegang oleh militer, yang memaksakan takluk, tunduk tanpa ada perlindungan apapun. Salah-satu penaklukkan dilakukan dengan menggunakan kelaparan sebagai senjata perang. Walaupun kita telah mempunyai capaian reformasi sektor keamanan, ada kasus-kasus yang terulang dari 1978-2004.

3)    Pencabutan identitas (budaya, agama, nama), pengambilan anak secara paksa. Negara (dua negara) harus memfasilitasi pertemuan kembali anak-anak ini dengan keluarganya. Pemulihan hak-hak anak-anak ini.

4)    Stigma terhadap korban perempuan, korban kekerasan seksual oleh militer yang kemudian ditinggalkan oleh suaminya, dan dikucilkan oleh masyarakat. Perempuan dan anak dijadikan target kekerasan menggantikan suami /saudara laki-laki yang dicari dalam operasi militer. Dampak stigma sosial dialami sangat lama, bahkan bisa menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.

5)    Pencarian orang hilang, penjelasan/informasi tentang hilang orang-orang yang dicintai. Ini adalah rekomendasi KKP dan CAVR yang belum dijalankan sampai dengan sekarang.  Kedua laporan ini patut menjadi bahan belajar buat generasi kedepan.

Suara para korban mengiris hati nurani kita; kekuatan para penyitas menjadi inspirasi bagi kita. Kebenaran mereka menjadi tempat kita  berlabuh untuk menuju sebuah bangsa dan negara yang lebih baik, yang dilandasi hak asasi manusia, kebebasan dan keadilan. Pemenuhan hak-hak korban untuk mendapatkan keadilan, kebenaran, pemulihan dan jaminan ketidak berulangan.

Terima kasih atas partisipasi kita semua. Khususnya para korban yang telah memberi kesaksiannya dan juga pada hadirin yang telah

 

Kami Para Majelis Warga,

Jakarta 26 November 2013,

Agus Wijoyo
Zumrotin
Fien Jarangga
Samsidar
Nia Sjarifudin
Galuh Wandita

Comments

Leave a Reply

Required Fields *
Your email will not be published.