happy wheels

Refleksi Akhir Majelis Warga: Reformasi sejati harus dijalankan oleh semua tingkat pemerintahan

0

 

Hadirin yang terhormat
Selamat malam, Assalamualaikum wr.wb.

Saya mewakili Majelis Warga yang selama 5 hari telah mendengarkan kesaksian para korban pelanggaran hak asasi manusia dan mereka yang mengalami kejahatan terhadap kemanusiaan. Saya ingin memulainya dengan mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak para penyintas yang telah bersedia membagi pengalaman hidupnya yang pahit dan belum terselesaikan sampai saat ini.

Selama lima hari Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran [disingkat KKPK] membuka sebuah ruang untuk pengungkapan pengalaman pahit, kepedihan sekaligus harapan para korban dan para penyintas.

Kita telah mendengar bahwa para korban telah berjuang dalam kegelapan, kesendirian, dengan mengalami intimidasi dan teror. Yang mengagumkan mereka menghadapinya tanpa pernah menyerah karena dilandasi oleh kekuatan batin dan prinsip hidup yang luar biasa.

Selama lima hari ini kami, Majelis Warga, dan para hadirin telah mendengar kebengisan, kekejaman dan kekerasan yang tak terbayangkan yang terjadi ditanah air kita terhadap warga kita.

Apa yang telah diungkapkan oleh para warga yang memberi kesaksian adalah bagian pahit dari sejarah bangsa yang mengetuk hati nurani kita semua.

Lima hari ini kita mendengarkan kebengisan yang telah mereka alami sebagai korban tetapi mereka tetap mengharapkan keadilan. Kita mengingat kembali ungkapan-ungkapan korban yang menunjukkan bagaimana mereka menghadapi ketidak-adilan dan kekerasan:

Kita mendengar cerita dari perempuan-perempuan yang berani berhadapan dengan penguasa. Mereka yang mencari suami, ayah, ibu dan anak yang ditahan atau dihilangkan berani pergi markas-markas tentara untuk menuntut informasi tentang keberadaan keluarga mereka.
Kita mendengar juga cerita perempuan-perempuan yang berani menantang interogator ketika dipaksa memilih antara mengaku atau ditelanjangi. Perempuan korban menyatakan dengan tegas, “Ini bukan pilihan.”

Kita juga mendengarkan kesaskian seorang korban yang mengalami penyiksaan seksual ditangan aparat militer. Pada saat ia diejek oleh aparat, ia menyatakan dengan lantang, “Aku punya harga diri. Bapak harga dirinya nol.”

Kita mendengar tentang anak-anak yang ikut mengalami siksaan dan penahanan, yang lahir di penjara atau ikut ditahan bersama orang tuanya. Juga anak-anak Timor Leste yang diambil paksa dari keluarganya untuk di “Indonesia-kan.” Hanya kemudian untuk dilupakan, dicampakkan, dibiarkan menderita di tangan orang-orang yang mengeksploitasi mereka.

Kita mendengar tentang para korban yang, tanpa proses pengadilan, dimasukkan ke penjara, dibuang ke pulau pengasingan, dan kemudian sesudah dibebaskan tetap harus menjalani wajib lapor dan mengalami diskriminasi dan stigmatisasi. Ini menimbulkan pertanyaan “Kemanakah hati nurani penguasa?”

Kita mendengar bagaimana intoleransi pada perbedaan agama telah memecah belah warga kita. Mereka yang menganut agama atau keyakinan yang digolongkan minoritas, mempunyai ketabahan menghadapi kekerasan, diskriminasi –tanpa menggunakan kekerasan balik.

Para petani dan pemilik tanah adat, muda dan tua, perempuan dan laki-laki, yang mengalami kekerasan termasuk diancam dengan senjata, mereka tetap teguh mempertahankan hak miliknya dengan menyatakan “tanah ku, warisan leluhur, yang ku sayang.”

Seorang lelaki tua mengatakan “Aku tak bisa lagi menyanyikan Indonesia Raya. Aku tak lagi memiliki tanah ataupun air. Aku menjadi patung, tidak bisa lagi menjadi pandu untuk Ibuku.” Ini suatu contoh bagaimana ketidakadilan yang mereka rasakan telah melukai rasa kewarganegara-annya.

Kita juga mendengar tentang kekerasan dan ancaman yang dialami oleh para pembela hak asasi manusia: wartawan, aktivis buruh, penyair, pemantau HAM dan pekerja perdamaian. Mereka begitu yakin tentang pentingnya mencapai perdamaian dan penegakan keadilan dan untuk itu mereka telah mempertaruhkan jiwa raganya.

Mendengarkan ketabahan, kekuatan para korban dan survivor yang mengalami berbagai bentuk kekerasan dan ketidakadilan, merupakan modal kemanusiaan untuk terus menerus membangun kebangsaaan yang lebih adil dan manusiawi, juga untuk bersama-sama mau melakukan perubahan demi kebenaran dan keadilan. Untuk itu dukungan masyarakat sipil adalah penting tetapi proses reformasi sejati dan menyeluruh harus dilaksanakan mulai dari pimpinan negara di berbagai tingkatan termasuk oleh institusi keamanan.

Adalah tanggungjawab kita sebagai semua anggota masyarakat sipil untuk terus mendorong komitmen para penyelenggara negara untuk mengimplementasikan berbagai landasan-landasan hukum yang telah tersedia termasuk konstitusi Negara UUD 1945 agar setiap warga negara merasa terlindungi dan terpenuhi rasa aman dan kesejahteraannya.

Kami sebagai Majelis Warga yang merupakan bahagian dari KKPK pada kesempatan ini mengajak sesama warga Indonesia untuk memulai menunjukan kepeduliannya yang lebih nyata terhadap ketidakadilan yang dialami oleh sesama warga. Kita sebagai sebuah bangsa harus memperkuat landasan konstitusional kita yang menetapkan kita sebagai bangsa yang humanis, toleran dan menghormati perbedaan demi tercapainya kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial bagi seluruh anak bangsa.

Akhirnya Majelis Warga ingin menyampaikan 5 akar masalah yang muncul dari kesaksian. Kita harus mengajak semua warga Indonesia untuk peduli mencari jalan keluar untuk masalah-masalah yang telah dipetakan disini:

Pertama : warisan militerisme dalam berbagai bentuk termasuk budaya militeristik, budaya premanisme dan budaya kekerasan yang hingga sekarang masih digunakan untuk menyelesaikan masalah dan perbedaan.
Kedua : Adanya upaya penyeragaman yang tidak sesuai dengan amanat konstitusi.
Ketiga : Keberlangsungan impunitas dan pelaksanaan hukum yang lemah sehingga kasus-kasus pelanggaran HAM semakin menumpuk.
Keempat : bangunan kebijakan yang semata-mata menempatkan sumberdaya alam dan manusia sebagai komoditas dengan cara merampas tanah-tanah rakyat.
Kelima : Adanya kontrol informasi, pendidikan dan penyangkalan kebenaran menumbuhkan berbagai masalah kemanusiaan.

Atas nama majelis warga, saya ingin mengucapkan sekali lagi penghargaan dan terima kasih yang tak terhingga kepada warga yang telah memberikan kesaksian dan telah berbagi seluruh kepedihan dan penderitaannya dengan cara yang menunjukan ketabahan dan yang mengajak sesama warga untuk meningkatkan hati nurani kita masing-masing. Marilah kita semua bicara benar, karena kebenaran adalah masa depan kita bersama.

 

Terima kasih
Atas nama Majelis Warga
Saparinah Sadli

Comments

Leave a Reply

Required Fields *
Your email will not be published.