happy wheels

Ngabinem, Istri Eks Tapol 65

0

Ngabinem, seorang perempuan berusian 70-an tinggal di Pulau Buru, Maluku bersama anak-anak dan cucunya.
Pada tahun 1965, ketika suaminya, Rabimin Siswopranoto, dan saudara laki-laiknya, Sugito ditangkap di Gunung Kidul, Yogyakarta, ia seorang ibu muda dengan ketiga anak-anak yang masih kecil.

Ketika suami dan adiknya ditahan, Ia disuruh menyediakan beras 10 kg/bulan untuk setiap satu orang karena mereka tidak disediakan cukup makanan. Selama 4 tahun mengunjungi suami dan adiknya, Ia melahirkan dua orang anak pada tahun 1967 dan 1969.

Lalu suami dan adiknya dinyatakan sebagai Tapol golongan B lalu dikirim ke Pulau Buru. Hal ini menjadi pukulan berat baginya, karena Ngabinem juga harus menghidupi kelima anaknya dengan terus menghadapi cemoohan masyarakat sekitar. Bahkan anaknya yang pertama harus keluar sekolah karena tidak tahan terus diejek.

Di tengah persoalan tersebut, Ia kemudian membawa ketiga anaknya ke rumah orang tuanya di Pojong, Yogyakarta, dan menitipkan ke dua anaknya di rumah mertuanya di Prambanan. Kekhawatiran terhadap kondisi suami, adik dan semua anak-anaknya terus menghantuinya. Saat anak ke-4 berusia 5 tahun aparat militer menyuruhnya ikut program pemerintah “menyusul suami” ke Pulau Buru. Ia bimbang mengambil keputusan karena memikirkan bagaimana nasib anak-anaknya sementara ia juga memikirkan nasib suaminya karena banyak Tapol yang mati karena tidak tahan hidup disana, sakit atau bahkan disiksa.

Hingga akhirnya suaminya mengirimkan surat yang ditujukan ke dirinya dan anak pertamanya yang isinya menguatkan bahwa di Pulau Buru ia bisa berjuang untuk hidup dan menyekolahkan anak-anaknya. Lalu, Ngabinem berangkat ke pulau Buru bersama Ibu dan ketiga anaknya selama seminggu lebih melalui perjalanan laut. Sampai disana, kondisi tempat tinggal yang tidak layak, beralaskan tanah basah dan harus mengolah sawah untuk menanam padi dan berkebun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sempat membuat anak pertamanya tidak ingin tinggal.

Kemudian pada tahun 1977, suaminya bersama ribuan Tapol dibebaskan dan diberi pilihan untuk menetap atau pulang ke Pulau Jawa. Ia dan suaminya memilih tinggal karena menurutnya lebih baik tinggal di P. Buru karena mereka bisa hidup lebih baik disana dibanding kembali di Pulau Jawa tanpa memiliki apa pun dan akan dikucilkan masyarakat. Ia tinggal di Savanajaya bersama 200 keluarga lainnya. Ia dan suaminya mendapatkan tanah 2 hektar (1 Ha untuk sawah dan 1 Ha untuk ladang) lewat program transmigrasi pemerintah.

Suaminya meninggal pada tahun 2007. Semua anak-anaknya sudah menikah. Tiga anaknya tinggal di Savanajaya dan dua menetap di Prambanan, Yogyakarta. Kini Ngabinem aktif di komunitas seperti pengajian Majelis Ta’lim dan masih ikut kegiatan Ibu-Ibu PKK sejak tahun 1980.

Comments

Leave a Reply

Required Fields *
Your email will not be published.