happy wheels

Kadmiyati Eks Tapol 65

0

Kadmiyati, 71 tahun, tinggal di Yogyakarta. Seorang guru muda yang hidupnya berubah karena peristiwa 1965.  Pada 10 Oktober 1965, mahasiswi tingkat akhir di Sekolah Guru Taman Siswa Pusat di Mergangsan yang sering mengikuti kegiatan budaya yang diselenggarakan LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dan ikut mengajar anak-anak di sebuah TK yang diorganisir Gerwani ini dibawa dari rumahnya bersama warga lainnya ke Kantor Desa.

Kemudian Ia ditahan di Kamp Bantul lebih dari satu tahun dengan tidak mendapatkan cukup makanan. Ayah dan kakaknya juga ditahan di LP Wirogunan, Yogyakarta. Kadmi dibebaskan tahun 1966, dan harus membantu ibunya membesarkan 7 adik-adiknya.

Mulai tahun 1967, Kadmiyati dipanggil beberapa kali ke Kamp Bantul. Ia kemudian mengalami penyiksaan seperti saat panggilan kedua tahun 1968, Ia diperiksa oleh Kejaksaan dan Kodim Bantul dengan disiksa. Kadmi mengingat pengalaman pahitnya dan bilang bahwa, “Waktu itu kita ditelanjangi, ya kita di… gitulah. Pokoknya saya malu mengutarakan hal itu karena saya kira sama saja dari tapol perempuan yang menerima siksaan…”
Ketika dibebaskan, Kadmi dikucilkan oleh masyarakat selama bertahun-tahun. Ia menikah tahun 1972 dengan pemuda yang bukan Tapol dan berjuang menafkahi keluarga dengan berjualan sayur dan membuat tepung ketan di pasar. Setelah suaminya meninggal beberapa tahun lalu, ia kini hidup bersama anak-anak dan cucu-cucunya sambil terus produktif menjahit dan beternak ayam dan aktif ikut kegiatan di gereja.

“Sekarang saya merasa lebih kuat dan tidak sendiri karena kami berjuang bersama. Kita perlu membongkar setiap kekerasan demi (tegaknya) keadilan”

Comments

Leave a Reply

Required Fields *
Your email will not be published.