happy wheels

Refleksi Anak Muda tentang Budaya dan Konflik

0

Tanggal: 09 Oktober 2013

    Gerakan 30 September 1965 (G30S) bukanlah suatu hal yang asing lagi diketahui bagi generasi muda di saat ini namun apakah yang telah mereka pelajari itu di dalam buku sejarah maupun tontonan yang diwajibkan pada saat itu benar adanya?. Banyak yang belum mengetahui bahwa apa yang mereka pelajari di buku sejarah mengenai pengkhianatan G30S –PKI adalah sejarah yang direkayasa dan propaganda belaka untuk menjadikan alat suatu kepentingan kekuasaan di rezim Orde Baru. Bahkan tragisnya kejadian-kejadian tragedi di tahun 65  yang mengakibatkan banyak korban tak bersalah dihilangkan, dipenjara tanpa diadili hingga dibunuh perbuatan yang tidak manusiawi itu belum juga terungkap dan teradili kebenarannya. Peristiwa itu tentu menimbulkan trauma berkepanjangan kepada para korban, dan sebagian lagi terus tetap berjuang dan bertahan sebagai survivor berjuang menyuarakan kebenarannya, meluruskan sejarah, dan meminta keadilan oleh negara untuk mencegah terulang kembali peristiwa tragis tersebut hingga saat ini.

    GOETHEHAUS tempat pusat budaya Jerman mengadakan acara berjudul BUDAYA & KONFLIK tanggal 29 September sampai tanggal 6 Oktober 2013 acara tersebut bekerjasama dengan lembaga kreatifitas kemanusiaan, KKPK (Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran), KOMNAS PEREMPUAN(KOMISI NASIONAL ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN, ISSI (INSTITUT SEJARAH SOSIAL INDONESIA) , PAPERMOON PUPPET THEATRE, KELOLA, ajar (asia justice and rights), dan Institut Ungu (Ruang Seni & Budaya Untuk Perempuan) dan lainnya.

    Acara ini disambut baik oleh banyak kalangan seperti aktivis, seniman, politisi, artis, pelajar dan juga mahasiswa. Acara yang saya datangi untuk pertama kalinya yaitu tanggal 29 September jam 7 malam dengan judul AKAR KEKERASAN pertama yang saya lihat adalah pameran sketsa-sketsa dari seorang seniman/pelukis hebat yakni karya A.Gumelar Demokrasno dengan judul “Corat-Coret 1965” beliau menggambarkan bagaimana situasi tragedi 65 yang terjadi waktu itu dimulai dari penangkapan para korban, penindasan, kesengsaraan para korban selama di penjara, nasib para keluarga korban, dan ketidakpedulian akan nyawa korban. Lalu di malam itu juga diputarkan film Spielzeugland karya Jochen A. Freydank yang memperlihatkan bagaimana kekerasan kaum Nazi berdampak terhadap semua kelompok masyarakat. Lalu dilanjutkan dengan pemutaran film yang kedua berjudul Jembatan Bacem karya dari Yayan Wiludiharto suatu tayangan di Indonesia yang menceritakan penelusuran pembunuhan massal di Solo, Jawa Tengah yang terjadi di Jembatan Bacem pada tahun 1965/1966, tragis dan tidak berprikemanusiaan para pelaku yang menembak, membunuh lalu membuang tubuh mayat korban ke sungai tepat di bawah Jembatan Bacem, Solo tersebut film ini didasari dengan pembicaraan para Saksi mata, penganiaya, dan juga korban yang selamat.

    Setelah menonton kedua film tersebut saya yang masih sebagai mahasiswa melihat kebengisan dan kekejaman para penguasa telah membenarkan segala upaya demi melancarkan strategi kekuasaan politik mereka walaupun bangsanya sendiri yang dikorbankan, keadilan akan suatu Hak Asasi Manusia tidak berlaku saat itu. Film Jembatan Bacem di Solo ini menyadarkan betapa banyaknya korban yang mudah hilang nyawanya begitu saja diperlakukan seperti binatang tetapi kejadian ini terus belum diungkapkan dan mendapatkan keadilan dari negara sendiri. Saya mengancungi jempol kepada Warga Solo yang terus tiap tahun mengadakan peringatan peristiwa Jembatan Bacem tersebut sebagai upaya mengungkapkan sejarah 1965 yang sebenarnya, mengenang mereka para korban yang tidak bersalah dan belum mendapatkan keadilan. Melalui pertunjukkan budaya tradisi, saksi dan korban Jembatan Bacem berbicara, lalu masyarakat setempat melepas ikan lele dan burung alasan agar mereka yang dihilang paksa mendapatkan keadilan!

    Lalu saya datang lagi di acara berikutnya pada hari Rabu malam tanggal 2 Oktober disana terdapat Pembacaan Sastra dan diskusi Sastra Indonesia Modern membahas konflik politik oleh bapak Putu Oka Sukanta, Bre Redana, Martin Aleida, Okky Madasar dengan moderator ibu Melani Budianta. Dalam sesi tersebut pembacaan yang dibuat para satrawan menulis mengenai konflik politik di Indonesia yang terjadi dengan gagasan-gagasan dan upaya bagaimana strategi mereka dalam mewakili kekerasan, tanpa menggoreskan kembali tindak kekerasan. Melalui dialog menceritakan sejarah yang sesungguhnya. Pembacaan ini dilanjutkan dengan diskusi bersama, terdapat banyak masukan dan gagasan bahkan kebanyakan diantaranya generasi muda yang memang antusias ingin lebih tahu lebih banyak soal tragedi 1965 ini, lalu yang menarik disini ada salah satu korban tragedi 1965 yang untuk pertama kalinya berbicara mengenai peristiwa yang beliau alami saat itu karena sebelumnya beliau mengalami trauma dan ketakutan sehingga tak berani bercerita apapun yang mengenai hal ini. Memang di zaman rezim orde baru masyarakat tidak bebas berbicara, berkritik, mempunyai gagasan tersendiri  entah itu lewat berbicara, tulisan, lukisan, musik rakyat Indonesia benar-benar dibungkam. Hanya penguasa-penguasalah yang berwenang dan bebas bisa melakukan semau mereka untuk melanggengkan kekuasan mereka.

    Terakhir yang saya datangi adalah di acara terakhir hari minggu tanggal 6 Oktober berjudul BUDAYA DAN KONFLIK: PENGALAMAN PEREMPUAN, saya datang sekitar jam 5 sore terdapat pemutaran film Sang Penari. Film tersebut menceritakan kisah cinta yang terjadi pada pertengahan tahun 1965. Seorang gadis yang begitu menginginkan menjadi penari ronggeng bernama Srintil, tetapi ketika Srintil mempersiapkan tugasnya sebagai penari Ronggeng tidak hanya sekedar tari dan menyanyi melainkan lebih dari sekedar mewakili desanya yaitu Dukuh Paruk dalam kompetisi tari. Sang kekasih Rasus yang selalu tak pernah setuju Srintil untuk menjadi Ronggeng dengan terpaksa membiarkan Srintil menggapai keinginannya itu ia akhirnya keluar dari desa Dukuh Paruk bekerja sebagai tentara. Seiring berjalannya waktu tragedi politik terjadi hingga konflik sampai ke desa Dukuh Paruk tersebut. Perjuangan mereka berdua yang berbeda diperlihatkan di film tersebut.

    Pengungkapan peristiwa korban tragedi 1965 ini bertujuan untuk menegakkan sejarah agar tidak ada lagi penyelewengan fakta yang sebenarnya. Memberitahu siapa dan bagaimana penyebab awal dari tragedi kemanusiaan ini terjadi, dan ini tentu tidak bisa di biarkan.“Mau sampai kapan peristiwa tragedi kemanusiaan ini disepelekan?” “Kenapa pemerintah Indonesia lalai dalam pengusutan tuntas peristiwa-peristiwa tragedi seperti ini?” Bila peristiwa tragedi seperti ini tidak segera dicegah agar tidak terulang kembali maka di masa yang akan datang kita akan terus dihantui kejadian-kejadian seperti pada masa rezim orde baru yaitu masa yang dilanda ketakutan, kecemasan dan menimbulkan korban kekerasan HAM.

Untuk itu, jangan pernah musnahkan demokrasi. Biarkan rakyat berpendapat, mengkritik, dan mengungkapkan seluruh pikiran dan isi hatinya untuk bangsa dan negara yang lebih maju dan sejahtera. Selalu mengutamakan rakyat, terutama mengutamakan Hak Asasi Manusia. Adil dan bijaksanalah untuk seluruh rakyat Indonesia. Ungkapkan peristiwa tragedi kemanusiaan 1965 yang sebenarnya terjadi bila ada penyelewengan dalam sejarah tuntaskanlah dengan benar. Bisa dengan mengumpulkan para korban tragedi kemanusiaan 65, para saksi, dan bukti-bukti nya.

Selanjutnya peristiwa 65 ini seharusnya disikapi  dengan mendorong Mahkamah Agung mengeluarkan surat tentang permohonan rehabilitasi korban peristiwa  65. Dalam pemberian rehabilitasi itu, berdasarkan Pasal 14 Ayat (1) UUD 1945 yang sudah diamandemen, sebenarnya Presiden RI dapat memberikan rehabilitasi bila telah mendapat rekomendasi dari MA. Pasal 14 UUD 1945 yang sudah diamandemen berkaitan dengan hak prerogatif presiden: Ayat (1), Presiden memberikan Grasi dan Rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung. Ayat (2), Presiden memberikan Amnesti dan Abolisi dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat.

Alasan yang bisa diajukan MA mengirim surat ini adalah (1) untuk memberikan penyelesaian dan kepastian hukum yang dapat memulihkan status dan harkat mereka sebagai warga negara yang sama dan (2) didorong semangat rekonsiliasi bangsa. Informasi ini didapatkan dari internet pada coup d’etat kolektif info yang dipublikasikan tanggal 10 September 2006. Maka dari  itu seharusnya surat rehabilitasi ini perlu diusahakan dari sekarang. Supaya peristiwa tragedi 65 ini semakin kuat kebenarannya dengan adanya surat rehabilitasi itu.

#bicarabenar dan Kebenaran adalah Masa Depan.

Tara Zaskia Alam

Comments

Leave a Reply

Required Fields *
Your email will not be published.