happy wheels

Nurlaila: Aku Ingin Melihat Pelaku Diadili

0

Saat Darurat Militer diberlakukan di Aceh, Nurlaila harus ikut suaminya hidup di hutan. Sebagai istri panglima GAM, dirinya ikut diburu tentara. Sebelum lari ke hutan, ia harus berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah warga untuk bersembunyi dari kejaran tentara. Sampai kemudian warga mulai khawatir menampung Nurlaila karena takut kehilangan keselamatan mereka. Sehingga Nurlaila akhirnya pergi ke kamp suaminya melalui sungai dengan perahu kecil dengan membawa anak pertamanya.

Sejak itu, Nurlaila dan ananya ikut bergerilya bersama suaminya. Selama dalam persembunyian Nurlaila sempat hamil tapi gugur saat lari menyelamatkan diri dari serangan tentara. Tapi kemudian dia hamil lagi dan melahirkan di hutan.

Nurlaila dan kedua anaknya harus selalu berpindah-pindah tempat menghindar dari operasi tentara. Selama berada dalam hutan, mereka kekurangan makanan. Kadang-kadang mereka harus berpuasa karena tidak ada makanan. Sementara kedua anaknya yang masih kecil-kecil hanya minum air asi dan air taji.

Tahun 2003, operasi tentara semakin besar sementara kondisi kedua anaknya sudah sakit-sakitan karena kekurangan gizi. Dengan terpaksa Nurlaila turun gunung dan berpisah dengan suaminya demi menyelamatkan anak-anak mereka.

Berbekal kitab kecil berupa kumpulan doa-doa dari suaminya, Nurlaila mencari tempat di rumah penduduk di kampung terdekat. Namun, baru sekitar 15 menit dia berada di rumah penduduk, tentara datang menangkap Nurlaila dan menggiringnya ke pos tentara di Pasie Lembang, Aceh Selatan. Ia ditahan di sebuah rumah bersama tahanan-tahanan lain, termasuk ibu mertuanya. Rumah tahanan itu terletak sekitar 10 meter dari pos tentara.

Saat dalam tahanan, Nurlaila hampir diperkosa oleh seorang tentara yang masuk menyelinap ke dalam kamarnya. Nurlaila mengadukan hal ini kepada komandan pasukan. Anak-anak Nurlaila sering dibawa oleh tentara saat jalan-jalan atau belanja. Mereka menjadikan anak-anak kecil itu sebagai tameng agar tidak diserang oleh anggota GAM. Nurlaila kemudian berhasil kabur dari tahanan setelah sebelumnya diizinkan untuk keluar dengan alasan menengok ibunya yang sakit.

[pgallery id=”NF86QY2796″ /]

Semasa kabur itulah Nurlaila mendapat kabar, suaminya ditembak tentara dalam sebuah operasi di daerah Pasie Lembang. Nurlaila baru bisa pulang ke kampung suaminya dua hari kemudian dan tidak sempat melihat jenazah suaminya. Nurlaila lalu kembali ke kampungnya di Desa Cot Krueng, Aceh Utara dan menetap sampai sekarang.

Nurlaila memulai hidup baru dengan membesarkan kedua anaknya. Dia sehari-hari bekerja sebagai petani garapan dan tukang jahit. Dari segi ekonomi dia tidak mampu. Dia sedikit beruntung karena mendapat perhatian dari keluarganya, termasuk dari keluarga almarhum suaminya.

Ketika pemerintah membentuk Badan Reintegrasi Aceh (BRA), ia ikut mengurus bantuan ganti rugi rumah yang dibakar. Ia mendapat bantuan 35 juta dari BRA untuk bangun rumah. Tapi pihak BRA memangkas 5 juta. Tidak ada pilihan bagi Nurlaila selain menerima apa adanya.

Meskipun beban keluarga ia tanggung sendiri, ia tetap tabah dan sabar menjalaninya. Kekuatan utama dia adalah pasrah diri pada Allah SWT. Dan hiburan dia sehari-hari adalah kedua anaknya. Ia juga merasa bersyukur karena keluarganya, tetangganya memperlakukan dia dengan baik. Di dalam hatinya, Nurlailan tetap berharap akan adanya keadilan.

Selain itu menurut aku, pemerintah harus membentuk pengadilan HAM dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Aku ingin melihat para pelaku pelanggaran HAM diadili. Anak-anak korban ini akan merasakan mereka tidak mendapat perhatian dari pemerintah.(Feri Kusuma)

 

Comments

Leave a Reply

Required Fields *
Your email will not be published.