happy wheels

Indonesia Tidak Belajar dari Masa Lalu

0

 

Jakarta – Aktivis Hak Asasi Manusia, Galuh Wandita, yang menjadi salah seorang pembicara pada diskusi Akar Kekerasan dalam Pekan Budaya dan Konflik di GoetheHaus menyayangkan Indonesia yang belum juga belajar dari masa lalu.

“Di Cebongan, empat tahanan dibunuh di dalam penjara, ini suatu kekejian yang luar biasa. Dulu hal seperti ini terjadi pada tahun 1965, kini 2013 masih terjadi. Kita tidak belajar dari masa lalu kita,” ujarnya.

Ia juga mendeskripsikan masalah yang terjadi tahun 1999 di Timor-Timur yang kini menjadi Timor Leste. ” Betapa ada orang-orang yang dibentuk, semacam diberikan pil ‘Anjing Gila’. Sehingga mereka bisa membunuh anak kecil, pastor, memperkosa suster. Budaya kita mengandung akar masalah ketidakadilan. Ini bisa mentoleransi kekerasan dan bisa menanamkan benih kebencian.”

***

Menurut Galuh budaya dan seni, bak pedang bermata dua. Bisa dipakai untuk hal positif seperti perubahan ke arah yang lebih baik, namun juga bisa menjadi kendaraan untuk melanjutkan kekelaman yang pernah terjadi sebelumnya. Semisal pada tahun 1965, Galuh mencontohkan bahwa budaya digunakan untuk mendorong pembunuhan dan memberi landasan akan hal itu, seni pun demikian, digunakan untuk mendorong terjadinya pembunuhan.

Tapi bukan tidak mungkin kita melakukan perubahan budaya. Poin pertama menurut Galuh adalah dengan mengakui dan melakukan perubahan nama atas sebuah kejadian. Kata Jugun Ianfu, atau wanita penghibur misalnya. Bukankah para wanita yang dipaksa menjadi pemenuh hasrat seksual tentara Jepang ini tak merasa terhibur sama sekali? “Ini sebenarnya bukan kata-kata yang tepat. Karena masih menggunakan perspektif pelaku,” jelasnya.

Sama dengan tragedi 1965 dan 1998, menggunakan tahun masih merupakan hal yang netral dan belum mampu menggambarkan peristiwa sebenarnya. “Sementara di Jerman, sudah ada gerakan yang panjang dan menamakan kekejian Nazi sebagai The Holocaust, yang artinya pemusnahan dengan api. Mereka tidak menggunakan kata-kata yang dulu dinamakan oleh rezim Nazi, yaitu The Final Solution. Karena The Final Solution adalah perspektif pelaku.” Perubahan nama jadi dirasa penting untuk merangkul korban dan menunjukkan upaya bertransformasi dari pemikiran lama. Transformasi ini juga dicapai dengan banyaknya kegiatan budaya. Namun ini juga perlu didukung dengan publikasi dan sosialisasi hasil penelitian Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. “Kita butuh pegangan itu, karena ini yang akan membedakan kita dengan kebudayaan yang sebelumnya. Kita masih harus terus mempelajari sejarah,” kata Galuh.

Kembali, negeri panser menjadi perbandingan soal akar kekerasan dan cara melihat sejarah. “Di Jerman, setiap dasawarsanya selalu mempelajari apa yang dulu dilakukan, sehingga sebuah bangsa bisa melakukan hal yang begitu salah. Kita di Indonesia jangankan mempelajari, mengakui juga belum,” kata perempuan kelahiran tahun 1966 ini. Dengan banyaknya karya seni dan sastra yang coba mengungkap kebenaran, baginya ini merupakan benih-benih perubahan di Indonesia. Selaku Koordinator di Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK), Galuh menjelaskan bahwa tahun ini KKPK mengkampanyekan soal Tahun Kebenaran. “Ini adalah ajakan untuk generasi muda untuk belajar tentang apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia, tidak hanya kasus 1965, tapi juga Timor Leste atau tragedi 1998.”

 

Sumber: Detik

Comments

Leave a Reply

Required Fields *
Your email will not be published.