happy wheels

Bu Rambiak yang Terus Memendam Asa

0

18 Juli 2013

Peristiwa tragedi Mei 1998 hingga masih menyisakan kisah pilu bagi keluarga korban. Ratusan keluarga korban hingga kini diliputi kegundahan. Perjalanan kasusnya seperti menguap begitu saja tanpa kejelasan dan kepastian lagi. Salah seorang keluarga korban tragedi Mei 1998  tersebut adalah keluarga Bu Rambiak (57 tahun). Ibu Rambiak kehilangan salah seorang putranya yang bernama Untung. Untung merupakan putra sulung dari lima bersaudara. Ia meninggal pada saat kejadian memilukan tersebut pada usia 24 tahun. Usia di mana seseorang memiliki energi dan cita-cita besar dalam hidup. Sayang, takdir telah menentukan nasibnya berumur pendek dalam tragedi pembakaran pusat perbelanjaan “Plasa Yogya” di bilangan Klender, Jakarta Timur.

Semasa hidupnya Untung merupakan dapat dibilang sebagai tulang punggung keluarga. Sebelum tragedi Mei 1998, Bu Rambiak menjalankan kegiatan sehari-hari sebagai penjual sayuran dan kue-kue gorengan di pasar. Meskipun hasilnya belum mencukupi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari, namun Bu Rambaik sudah merasa  lega karena ada si Untung yang bisa membantu. Di pasar Bu Rambiak biasa juga dipanggil dengan sebutan Bu Untung oleh teman-teman sesama pedagang di pasar.

Kehilangan Untung membuat kehidupan Bu Rambiak semakin sulit. Ia harus membesarkan empat anaknya, dua laki-laki dan dua perempuan. Aktivitas dagangnya tidak menentu karena disibukkan dalam memperjuangkan kasus yang menimpa Untung. Dia berjuang dan mengikuti perjalanan kasus anaknya bersama ibu-ibu keluara korban tragedi Mei 19988 lainnya yang umumnya juga berasal dari wilayah Klender.

Lima belas tahun berselang,  kini anak-anak Bu Rambiak sudah berkeluarga semua. Namun kehidupan Bu Rambiak tetap tak beranjak dari kesulitan. Bahkan, sekarang penglihatan Bu Rambiak mengalami masalah, matanya terkena penyakin rabun sehingga tidak bisa berjalan jauh. Kadang orang-orang di sekitarnya pun tidak dapat dikenalinya dengan baik.

Selama mengikuti perjalanan kasus anaknya, Bu Rambiak merasa seperti dipermainkan. Ia merasa Pemerintah tidak melakukan tindakan sama sekali.  “Saya katakan dari awal hingga terakhir.  Dari Komnas HAM seperti bola pimpong. Katanya berkas berkas dari Komnas HAM sudah diserahkan di Kejaksaan Agung namun persyaratannya kurang lengkap.  Lalu dibalikin seperti bola Pimpong seperti tidak ada niat. Dari dulu semua pemerintah selalu janji-janji tetapi hingga sekarang tidak ada jawaban seperti digantungkan nasibnya. Saya sempat putus asa,” Ujanynya.

Di tengah keterbatasan hidupnya, Bu Rambiak masih tetap memelihara harapan bahwa kasus pelanggaran HAM yang menimpa anaknya akan diselesaikan Pemerintah.  Walau sempat dibuat putus asa dalam memperjuangan penyelesaian kasus Untung. Kini Bu Rambiak hidup bersama salah satu keluarga anak perempuannya yang tinggal di sebuah kontrakan kecil di bilangan Klender.

Saat ini ibu rumbiak berharap ada uluran tangan pemerintah untuk bisa meringakan beban hidup keluarganya. “Saya sih kepenginnya jual sandal, karena kan sandal itu tidak basi. Saya tidak bisa mengandalkan anak karena anak sudah punya keluarga masing masing,” harapnya. (Syahril)

Comments

Leave a Reply

Required Fields *
Your email will not be published.