happy wheels

Bu Kus Tak Ingin Jadi Kuli Lagi

0

Bagi yang mengalami, Tragedi Mei 1998 begitu memilukan sekaligus mencekam. Pada saat itu, tanggal 13 dan 14 Mei 1998, sebagian besar Jakarta berubah menjadi ajang “pertempuran” dan kekacauan. Demonstrasi rakyat yang menuntut mundurnya Soeharto tak terbendung lagi. Korban pun berjatuhan dari para demonstran baik para mahasiswa maupun rakyat sipil lainnya. Banyak orang tua yang kehilangan anggota keluarganya mulai dari anak- anak hingga lanjut usia.

Lima belas tahun sudah kejadian tersebut berlalu, namun terasa baru kemarin bagi ibu Kusmiati (49). Peristiwa itu begitu melekat di ingatan Bu Kus, demikian ia biasa di panggil sehari-hari. Ia kehilangan Mustopa (Topan), anak pertamanya dari empat bersaudara. Pada saat peristiwa itu Topan berusia 14 tahun dan masih sekolah di kelas 2 SMP. Topan begitu perhatian terhadap orang tuanya dan dia sering membantu Ibu Kus. Hal inilah yang membuat Ibu Kus begitu terpukul atas kepergian anaknya yang masih sangat muda tersebut.

Sekarang ini Bu Kus tinggal di rumah kontrakan yang tidak begitu besar di bilangan Jakarta Timur, tepatnya di Cipinag Muara 2 RT.01 RW.04. Bu Kus tinggal bersama 5 orang penghuni lainnya. Keadaan tersebut begitu kurang layak untuk ukuran orang sebanyak itu, apalagi di tambah dengan kelahiran cucu Bu Kus dalam waktu dekat ini.

Kesulitan hidup Bu Kus begitu terasa karena penghasilan tetap yang dia harapkan setiap hari atau setiap bulan tak pernah dia rasakan. Untuk membayar kontrakan yang hanya 400 ribu sebulan saja sangat sulit. Di usianya yang hampir separuh baya, Bu Kus masih tetap gigih untuk mencari nafkah. Pekerjaan apapun akan dia lakukan seperti jadi kuli cuci atau membantu orang masak pada sebuah pesta meskipun bayarannya tidak terlalu besar.

Belakangan ini Bu Kus mendapat pinjaman uang dari koperasi korban GEMAH RIPAH yang berada di bawah naungan IKOHI. Meskipun hanya mendapat pinjaman sebesar Rp 500.000,-, Bu Kus memberanikan diri memulai usaha kecil-kecilan di rumahnya. Keuntungannya memang tidak seberapa tapi cukup membantu. Bu Kus merasa usahanya cukup berkembang karena dia sudah bisa mengembalikan pinjaman. Saat ini dia bahkan sudah mendapat pinjaman lagi sebasar RP 1.000.000,-.

Ibu Kus berharap pemerintah memperhatikan kasus anaknya, atau setidaknya menunjukkan rasa kepedulian kepada keluarga korban. Respon yang telah ditunjukkan pemerintah selama ini membuat dia sangat kecewa. Berbagai usaha telah dia jalani bersama keluarga korban yang lainnya, namun sampai saat ini belum ada kejelasan atas kasus tersebut. Bahkan, satu hal yang membuat Bu Kus sangat kecewa adalah anaknya dianggap buruk oleh masyarakat karena dianggap ikut dalam penjarahan saat kerusuhan di bulan Mei itu terjadi. Sekarang ini, Bu Kus menilai bahwa hanya pengembalian nama baik atas kasus  anaknyalah yang dapat mengobati kekecewaannya. (Syahriel)

Comments

Leave a Reply

Required Fields *
Your email will not be published.